07Jan

Bagaimana Ajaran Islam Memandang Pakaian Untuk Umatnya

Merapatkan aurat ialah hak bagi setiap masyarakat muslim, baik itu laki-laki maupun perempuan. Beberapa Ahli Agama madzhab Syafi’i berfatwa maka aurat para kaum putra ialah yang diantara pusat dan lututnya. Sedangkan untuk putri, sekujur tubuh kecuali rupa dan telapak tangan.

Secara umum, memakai semua jenis pakaian (kecuali dari resep yang diharamkan) adalah diperbolehkan sementara ia menutup aurat. Namun, mengenakan busana yang mengenakan maupun suka dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam ternyata mendapati keistimewaan sendiri dibanding baju konvensional.

Akan tapi, sebagian kecil ulama berpendapat maka menggunakan pakaian yang dikenakan oleh Nabi semata-mata ialah kebiasaan dari keturunan Arab. Maka dari saran ini, kemeja, sekiranya, bukanlah termasuk sunnah.

Terlepas mengenai gagasan terkandung, sebagian besar syeikh yakin bergagasan, seumpama orang menggunakan baju ‘sunnah’ tertulis dengan awal sayangnya terhadap Nabi, lalu ia tentu mendapatkan ganjaran dari sayang tersebut.

Saat kesempatan kali ini, silahkan saya bahas sedikit bermacam-macam sunnah-sunnah Rasulullah di dalam berpakaian sehari-hari.

Peci dan ‘Imamah

Dalam telaah dalam sunnah berpakaian ini, kita mulai berawal komponen atasan, betapa Rasulullah dan para sahabat.

“Dahulu (pada hari-hari di musim panas), kaum itu (Rasul dan para sahabat) bersujud pada surban, dan songkok (peci), sedang kedua tangannya pada lengan bajunya”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Ash-Sholah: Bab As-Sujud ala Ats-Tsaub fi Syiddah Al-Harr (1/150)]

Rasulullah menggunakan imamah/sorban yang dililit di kepala. Hal ini berdasarkan kisah dari saudara ‘Amr bin Harits -semoga Allah meridhoinya- pernah menyatakan:

“Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam pernah berkhutbah di hadapan orang-orang dengan memakai sorban hitam di kepalanya” (HR. Muslim 1359)

Gamis dan Jubah

Rasulullah sangat suka memakai gamis. Dikatakan, dia senang mengenakan gamis dengan kamu makin menutupi sekujur badan.

Dari Ummu Salamah -semoga Allah meridhoinya-, ia berkata,

“Pakaian yang paling disukai oleh Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah gamis.” (HR. Tirmidzi no. 1762)

KH Mushthofa Bisri menafsirkan hadits tentang pakaian yang paling disuka oleh Nabi ini dengan pakaian daerah masing-masing (yang menutup aurat, semisal batik). Sehingga, apabila kita mengenakan batik dengan niat mengikut Nabi (yang mencintai pakaian daerahnya, yaitu gamis), maka ia akan mendapat pahala.

Lainnya gamis, Nabi juga senang memakai busana luar (jubah). Terdapat separuh hikayat yang menegaskan mengenai kejadian ini, namun kamu ambil satu saja.

Dari Abu Rimtsah Rifaah At-Taymiy -semoga Allah meridhoinya-: “Saya pernah melihat Rasulullah memakai dua baju yang hijau”. (HR Tirmidzi dan Abu Daud)

“Dua baju” yang dimaksud pada hadits ini adalah baju dalam (gamis) serta baju luar (jubah). Contohnya bisa lihat pada gambar di bawah.

Sarung

Sarung (izaar) sudah pernah ada dan ramai digunakan sejak masa Nabi. Pada awalnya, sarung yang tampak pada era tersebut tidak sampai makin sebanding atas apa yang tersedia di era sekarang.

Tetapi, saat era jahiliyyah, sebagian manusia terencana menjulurkan kain sarung atau gamisnya sampai melampaui mata kaki untuk menerangkan bahwa kamu ialah manusia berpunya alias ingin melagakkan dirinya.

Wajar saja, Rasulullah Shallallahu ‘Alayhi wa Sallam lalu mengharamkan untuk memanjangkan kain sarung/gamis melewati mata kaki.

Diriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar -semoga Allah meridhoi keduanya-, ia berkata: “Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

‘Barangsiapa menjulurkan pakaiannya karena sombong maka Allah tidak akan melihatnya di hari Kiamat kelak.’”

Dari Abu Hurairah -semoga ALlah meridhoinya- dari Nabi Shalallahu ‘alaihi wa sallam: “Kain sarung yang berada di bawah mata kaki tempatnya di Neraka.”

Ulama bergagasan pada hadits ini, bahwasannya tabu hukumnya membentangkan kain celana/sarung/gamis melebihi mata kaki dengan niatan bangga. Adapun andaikata tiada ada keingginan sombong, lalu ulama berlainan pendapat, setengah berpendapat makruh, sedangkan yang lainnya beropini mubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *