29Jul

Nama Ilmiah Hewan dan Tumbuhan

Memperlajari biologi sekaligus mempelajari belajaran bahasa asing. Bidang ilmu biologi ini menggunakan bahasa latin untuk nama ilmiah hewan dan tumbuhan yang menjadi objek penelitian. Jika melihat sejarah, bahasa latin memang pernah berjaya di dunia ketika kerajaan Romawi berjaya di Eropa. Romawi sebagai kerajaan yang menggunakan bahasa latin sebagai bahasa resminya dulu memiliki status layaknya Amerika di zaman sekarang, yaitu sebagai negara adi kuasa atau super power. Bayak sekali negara-negara yang dahulu merupakan jajahan kerajaan Romawi. Penjajahan tersebut menjadikan bahasa latin dipakai oleh berbagai negara yang dijajah oleh Romawi. Salah satu negara besar yang dahulu kala merupakan jajahan Romawi adalah negara Inggris.

Ketika Romawi runtuh, bahasa yang digunakan sempat bertahan sesaat dan kemudian mati. Bahasa yang mati ini memberi tanda bahwa bahasa tersebut tidak akan mengalami perubahan makna, sehingga cocok digunakan sebagai penamaan. Selain itu, Inggris yang dahulu menggunakan bahasa latin kemudian menggunakannya untuk pengajaran mengani bidang biologi. Bahasa latin pun akhirnya digunakan untuk penamaan hewan (seperti reptile dan lainnya) dan tumbuhan. Alasan terakhir mengapa nama ilmiah menggunakan bahasa latin adalah masih digunakannya bahasa latin di gereja-geraja Eropa. Pada zaman dahulu gereja memiliki andil yang sangat besar dalam tatanan kehidupan manusia di Eropa. Dengan menggunakan bahasa latin sebagai penamaan limiah, maka bahasa ini tidak akan dicemooh oleh masyarakat karena dianggap bahasa yang agung.

Tata Cara Pemberian Nama Ilmiah Hewan Dan Tumbuhan

Pemberian nama ilmiah hewan dan tumbuhan ini pada awalnya dibuat oleh Carolus Linnaeus untuk penamaan fungi atau jamur, tumbuhan, hewan, namun kemudian digunakan pada bakteri juga. Tata nama binomial atau binomial nomenklatur adalah aturan penamaan baku bagi semua organisme yang terdiri dari dua kata (binomia berarti dua nama) dari sistem taksonomi (bilogoi). Sistem ini bekerja dengan mengambil nama genus dan nama spesies. Nama yang dipakai adalah nama baku yang diberikan dalam bahasa latin atau bahasa lain yang dilatinkan. Sebutan yang disepakati adalah ‘nama ilmiah’. Dalam pengertian umum, penamaan ini biasanya disebut sebagai nama latin, padahal istilah ini kurang tepat. Beberapa nama memang ada yang dari bahasa latin asli, namun sebagian besar nama yang diberikan bukan istilah asli dalam bahasa latin melainkan nama yang diberikan orang yang memberi deskripsi mengenai objek tersebut, kemudian baru dilatinkan.

Carolus linnaeus memilih menggunakan bahasa latin karena dari masa ke masa hingga saat ini, bahasa latin tetap tida mengalami perubahan atau perkembangan, inilah yang disebut sebagai bahasa mati dalam penjelasan sebelumnya. Penamaan organisme saat ini diatur dalam Peraturan Internasional bagi Tata Nama Botani (ICBN) bagi tumbuhan, beberapa alga, fungi (jamur), lumut, dan fosil tumbuhan. Selanjutnya ada Peraturan Internasional bagi Tata Nama Zoologi (ICZN), yaitu digunakan untuk penamaan pada hewan dan fosil hewan, serta Peraturan Internasional bagi Tata Nama Prokariota (ICNP).

Berikut ini adalah aturan penulisan nama ilmiah hewan dan tumbuhan.

  • Aturan penulisan dalam tatanama binominal selalu menempatkan nama genus di awal dan nama spesies di belakangnya.
  • Nama genus diawali huruf kapital dan nama spesies diawali dengan huruf kecil.
  • Penulisan nama tidak mengikuti topografi yang menyertainya.
  • Nama lengkap (hewan) atau singkatan (tumbuhan) dari otoritas boleh diberikan di belakang nama spesies dan ditulis dengan huruf tegak.
  • Pada penulisan teks dengan nama umum, nama ilmiah biasanya menyusul dan diletakkan dalam tanda kurung.
  • Nama ilmiah ditulsi lengkap apabila disebutkan pertama kali.

Itulah beberapa aturan dasar penamaan ilmiah pada hewan dan tumbuhan. Selain yang telah disebutkan, terdapat beberapa aturan tambahan untuk melangkapi.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *