31Jan

Saudara Ingin Mulai Menikah? Berikut Langkah yang Kudu Diingat

Pernikahan memang menjadi salah satu tujuan hidup serta menjadi hari yang dinantikan oleh banyak orang. Bukan hanya dirimu seorang yang menanti-nantikan momen sakral ini, tetapi ayah ibu kamu juga!

Dimulai saat hari pertunangan. Kamu melalui hari yang menegangkan? Ayah ibu-mu juga demikian! Kalau dirimu menganggap ini adalah peristiwa yang spesial dalam kehidupan kamu, sama halnya yang dirasakan oleh mereka orangtuamu. Orang tua berdua menyaksikan seluruh tahapan dalam kehidupan kamu.

Ibu dan bapak sudah menuntunmu ke alam dunia (atas izin Allah) dan bersusah payah membesarkanmu. Kemudian selalu menemani mulai dari hari pertamamu belajar jalan serta bicara, masuk kegiatan sekolah hingga lulus dari universitas, pertama kali kamu masuk kerja, hari-hari ketika kamu susah dan bahagia, dan tak terkecuali hari ketika kamu menemukan calon pendamping hidup.

Hari Ketika Dirimu Memutuskan Untuk Menikah

Sebagai orang yang akan melakukan resepsi pernikahan, normal jika kamu merasa bahwa resepsi pernikahanmu mutlak milikmu seorang.

Kamu ingin menggelar susunan acara pernikahan yang sudah kamu impikan sejak lama. Tapi terkadang, konsep pernikahan yang kamu idamkan sangat berbeda dari keinginan orang tua. Kamu pun ingin mempertahankan apa yang kamu yakini.

Jika seperti ini faktanya, sebaiknya tidak buru-buru naik emosi. Kontrol egomu yang berlebih. Kamu tak akan mampu mengabaikan keberadaan ayah dan ibu. Apapun itu, keberadaan ayah ibu saat resepsi pernikahanmu tak dapat {dielakkan}. Mereka akan ikut andil dalam acara pernikahan yang lancar dan berkesan.

Ayah dan ibu mempunyai peran yang penting pada setiap prosesi pernikahan. Sejak agenda pranikah, perencanaan prosesi pernikahan yang baik menurut adat maupun agama, sampai acara pernikahan di hari H.

Untuk mencapai impian pernikahan yang kamu idamkan, terlebih dulu kamu mesti memahami bahwa keberadaan ayah dan ibu itu penting. Sebab, tidak jarang acara pernikahan itu juga merupakan hari yang juga dinantikan bagi ayah dan ibu.

Melamar Dahulu, Langsungkan Pernikahan Kemudian

Pasti ada acara lamaran sebelum dilakukan pernikahan. Si pemuda akan mendatangi rumah wanita. Si pemuda akan meminta ijin dari ayah wanita untuk menikahi putrinya. Sebenarnya seorang laki-laki bisa saja datang sendiri menjumpai bapak gadis pujaannya. Namun sekekar dan segagah apapun si pemuda, bergetar juga kakinya kalau melangkah menuju rumah perempuan tanpa didampingi orang-orang terdekat. Sebab menikah merupakan perkara besar. Ia hendak meminta anak gadis orang untuk dijadikan teman perjuangannya.

karenanya, menjadi kewajiban orang tua dari pihak si pemuda untuk menjumpai ayah si perempuan. Ayah dan ibu akan mensupport sekaligus mendampingi si pemuda untuk melamar si perempuan. Ayah dan ibu akan memberikan dukungan moril bagi anaknya.

Bersama ayah ibunya, langkah kaki si pria akan semakin mantap menuju pintu gerbang rumah si gadis. Orang tuapun berkeinginan mengajak keluarga yang lain seperti eyang dan sepupu atau paman juga bibi si pemuda.

Mereka akan berkunjung tidak dengan bertangan hampa membawa banyak oleh-oleh. Orang tua si pria akan membawa hantaran menyesuaikan budaya adatnya. Keluarga besar akan sibuk menyiapkan diri demi bertamu dengan orang tua si wanita. Maka lamaran sebagai momen keluarga juga, bukan hanya punya kedua calon mempelai.

Pada saat hari lamaran, bukan sekedar {waktu ketikalmomen} si pemuda meminta restu ke ayah si wanita untuk melamar anak perempuannya. Di hari itu, juga merupakan momen pertemuan dua keluarga untuk menentukan kapan dilangsungkannya resepsi pernikahan.

Orang tua si perempuan umumnya menjadibertindak sebagai penyelenggara pernikahan. Meskipun juga tak menutup kemungkinan jika pihak si pria yang pesta pernikahan.

Menjelang Hari Pernikahan

Di balik kabar lamaran juga terselip setumpuk keruwetan yang menyambut. Sedari perancangan sampai prosesi pernikahan. Mulai dari acara utama yaitu akad nikah maupun kegiatan tambahannya yakni seremonial pernikahan.

Saat hari pernikahan usai ditentukan, akan terdapat banyak hal yang perlu dikerjakan sebelum tanggal itu benar-benar datang. Saat sang anak perempuan repot dengan masalah baju pengantin, sang bunda akan membantunya memilih kain dan merekomendasikan tukang jahit terbagus yang dia kenal.

Si bunda juga yang mendampinginya melakukan berbagai perawatan tubuh mempelai wanita, sedari ujung kuku sampai ujung kepala. Sebelum hari H si ayah akan mengambil waktu tertentu untuk ngobrol bareng anak gadisnya, memberikan beberapa nasehat pernikahan. Ayah dan ibu juga turut menyusun daftar tamu undangan.

Begitu halnya juga di rumah si laki-laki. Keluarga besar si pria pun tak kalah sibuk. Ayah dan ibunya akan banyak memberikan nasehat pernikahan. Dengan support dari sesepuh serta seluruh anggota keluarga lainnya, orang tua sibuk menyiapkan mahar juga perlengkapan lainnya.

Mereka tengah melatih diri untuk menyampaikan materi pidato di hadapan keluarga si wanita di hari pernikahan nanti.

Ayah ibu, baik si gadis atau si laki-laki tidak merasa keberatan dengan segala persiapan pernikahan ini. Karena pernikahan ini adalah hajat mereka semua. Mereka tidak terbebani untuk ikut berkontribusi secara keuangan demi berlangsungnya acara pernikahan.

Sampailah di Hari Pernikahan

Di hari pernikahan, orang tua “melepaskan” anak-anak menuju agenda hidup yang baru, menjalani kehidupan rumah tangga. Seperti hari wisuda, orang tualah yang berperan seperti rektor di universitas keluarga. Orang tua menyatakan bahwa sang anak telah lulus menjadi ayah/ibu untuk anak keturunan kelak.

Seperti apapun acaranya, apakah kalian duduk sebelahan di depan penghulu atau si gadis menanti di ruangan terpisah, jangan lalai mengabarkan bapak si gadis. Karena, bapak si wanita lah yang akan menikahkan kalian berdua di depan penghulu serta seluruh tamu. Lalu doa-doa ayah dan ibu teruntuk kalian semua.

Di Momen Acara Pernikahan

Ente barangkali terlampau gugup menyiapkan diri dalam menempuh akad pernikahan sehingga tak peduli lagi dengan segala persiapan perayaan. Waktu itu, ayah dan ibu lah yang mengatur kendali sebab bagi mereka, mereka lah si pemilik hajat.

Ayah dan ibu kalian akan menyandingkan kalian berdua di atas pelaminan. Setiap ayah kalian akan menyampaikan kata-kata sambutan. Sementara ibu hendak meyakinkan bahwa para tamu dilayani dengan sepatutnya.

Ketika kamu duduk menjumpai dengan banyak tamu undangan, orang tuamu memastikan jika catering yang kamu pilih dapat memenuhi seluruh kebutuhan, fotografer yang kamu pesan sudah memfoto seluruh momen pernikahan, dan souvenir sudah siap di meja penerimaan para tamu. Mereka pula yang memantau tatanan acara pesta sesuai dengan rencana.

Setelah Momen Pesta Pernikahan

Kalian berdua kini sudah sah menjadi sepasang suami istri. Tamu undangan juga telah kembali ke rumah masing-masing. Tukang foto pun sudah siap untuk mencetak hasil tugasnya. Catering akan segera dirapikan. Hiasan sudah dibongkar. Alunan lagu acara sudah dihentikan. Kini tinggal keluarga yang tetap menemani kalian.

Di momen pesta pernikahan sudah usai, masih saja mereka meluangkan waktu membayangkan uang untuk bulan madu pernikahan kalian. Malahan tahun-tahun selanjutnya, mereka masih terus menyokong kehidupan pernikahan kalian baik fisik ataupun non fisik.

Sebagai bahan renungan, pernikahan anak itu seringkali merupakan momennya orang tua? Fikir ulang lagi terkecuali rasa egomu terlalu tinggi untuk tidak melibatkan kedua orang tua. Walau Apapun juga, mereka mempunyai peran penting dalam keberlanjutan pernikahan kamu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *